Secara hukum di Indonesia belum ada satu skema sertifikasi tunggal yang mewajibkan setiap juru bahasa isyarat memiliki sertifikat resmi. Namun secara profesional, yang benar-benar penting adalah kompetensi yang teruji: penguasaan bahasa isyarat setara penutur asli, pemahaman budaya Tuli, kepatuhan pada kode etik, dan pengalaman nyata. Sertifikat atau bukti pelatihan dari lembaga kredibel adalah salah satu penanda kompetensi itu — bukan satu-satunya, tetapi sangat membantu. Artikel ini menjelaskan kualifikasi apa yang benar-benar berarti dan bagaimana memverifikasinya.
Pertanyaan "harus bersertifikat atau tidak" sebenarnya menyembunyikan pertanyaan yang lebih penting: bagaimana memastikan seorang juru bahasa isyarat benar-benar kompeten dan bisa dipercaya untuk konteks Anda.
Apakah sertifikat diwajibkan secara hukum
Berbeda dengan penerjemah tersumpah yang memiliki mekanisme pengangkatan resmi, profesi juru bahasa isyarat di Indonesia belum diatur oleh satu skema sertifikasi negara yang tunggal dan wajib. Artinya, tidak ada aturan yang secara formal melarang seseorang bekerja tanpa sertifikat tertentu.
Meski begitu, ketiadaan kewajiban hukum bukan alasan menurunkan standar. Untuk konteks berisiko tinggi seperti medis dan hukum, bukti kompetensi dan pengalaman justru semakin penting karena taruhannya besar.
Mengapa kompetensi lebih penting daripada sekadar bisa berisyarat
Banyak orang bisa berkomunikasi dengan bahasa isyarat sampai tingkat tertentu, tetapi menjadi juru bahasa profesional adalah keterampilan yang jauh berbeda. Seorang JBI harus mampu:
- Mengalihbahasakan dua arah secara langsung tanpa kehilangan makna, nuansa, dan emosi.
- Bekerja di bawah tekanan dan menjaga konsentrasi dalam durasi panjang.
- Memahami budaya Tuli, bukan sekadar kosakata isyarat.
- Menguasai istilah teknis sesuai konteks — medis, hukum, akademik, atau bisnis.
- Memegang teguh kode etik netralitas, akurasi, dan kerahasiaan.
Seseorang yang "hafal isyarat" belum tentu mampu menjaga akurasi dan netralitas saat penjelasan dokter berlangsung cepat atau saat suasana persidangan menegang. Di sinilah profesionalisme membedakan.
Bisa berbahasa isyarat adalah syarat awal, bukan syarat cukup. Yang menjadikan seseorang juru bahasa isyarat adalah kompetensi, etika, dan pengalaman yang teruji.
Peran pelatihan dan lembaga: Pusbisindo dan Gerkatin
Kompetensi juru bahasa isyarat umumnya dibangun melalui pelatihan berjenjang dan pendampingan komunitas Tuli. Dua nama yang kerap dirujuk di Indonesia:
- Pusbisindo — pusat pelatihan bahasa isyarat (BISINDO) yang dijalankan bersama komunitas Tuli dan menjadi rujukan pembelajaran BISINDO yang autentik.
- Gerkatin — organisasi yang menaungi gerakan kesejahteraan Tuli Indonesia, yang aktif mendorong lahirnya juru bahasa isyarat berkualitas.
Pelatihan yang melibatkan komunitas Tuli secara langsung sangat berharga karena BISINDO adalah bahasa alami komunitas — bukan sekadar sistem yang dipelajari dari buku. Untuk memahami perbedaan sistem isyarat, lihat BISINDO vs SIBI.
Cara memverifikasi kompetensi juru bahasa isyarat
Sebelum menyewa, Anda berhak memastikan kualitas. Beberapa cara memverifikasinya:
- Tanyakan latar pelatihan dan pengalaman kerja di konteks serupa dengan kebutuhan Anda.
- Minta rekam jejak — acara, instansi, atau layanan yang pernah didampingi.
- Periksa penguasaan sistem yang Anda perlukan (BISINDO dan/atau SIBI).
- Pastikan komitmen pada kode etik, terutama kerahasiaan untuk konteks sensitif.
- Bekerja lewat penyedia tepercaya yang sudah menyeleksi juru bahasanya.
Menyewa melalui penyedia jasa juru bahasa isyarat profesional menyederhanakan proses ini, karena penyeleksian kompetensi sudah dilakukan di awal. Tips lengkap ada di tips memilih juru bahasa isyarat profesional.
Menyesuaikan standar dengan konteks acara
Tingkat kualifikasi yang Anda butuhkan bergantung pada konteks. Untuk rapat internal yang santai, penguasaan bahasa dan etika dasar sudah memadai. Untuk konsultasi medis, persidangan, atau konferensi resmi, prioritaskan juru bahasa dengan pengalaman spesifik dan penguasaan istilah teknis yang relevan.
| Konteks | Prioritas kualifikasi |
|---|---|
| Rapat & pelatihan internal | Penguasaan bahasa & kode etik dasar |
| Acara publik & konferensi | Pengalaman panggung, stamina, kejelasan |
| Medis | Istilah kesehatan, akurasi, kerahasiaan |
| Hukum & kepolisian | Netralitas ketat, ketelitian, pengalaman |
| Pendidikan tinggi | Istilah akademik sesuai bidang |
Diskusikan konteks Anda sejak awal saat memesan. Jika ragu menentukan standar yang tepat, hubungi tim kami untuk rekomendasi juru bahasa yang sesuai kebutuhan.
Kesalahan umum saat menilai kualifikasi JBI
Beberapa keliru yang sering terjadi ketika memilih juru bahasa isyarat, terutama bagi penyelenggara yang baru pertama kali:
- Mengira "bisa berisyarat" sudah cukup — padahal menerjemahkan langsung dua arah menuntut keterampilan tersendiri.
- Mengandalkan keluarga atau rekan peserta Tuli sebagai juru bahasa, yang justru mengorbankan netralitas dan kerahasiaan.
- Mengabaikan kecocokan sistem isyarat (BISINDO atau SIBI) dengan preferensi audiens.
- Menilai hanya dari sertifikat tanpa memeriksa pengalaman nyata di konteks serupa.
- Memesan terlalu mepet sehingga tidak sempat memverifikasi kompetensi dengan baik.
Menghindari kesalahan ini sama pentingnya dengan mencari kualifikasi yang tepat — keduanya menentukan apakah komunikasi peserta Tuli benar-benar terlayani.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah juru bahasa isyarat wajib bersertifikat secara hukum?
Di Indonesia belum ada skema sertifikasi negara yang tunggal dan wajib untuk juru bahasa isyarat. Namun secara profesional, bukti kompetensi dan pengalaman tetap sangat penting.
Kalau tidak wajib, kenapa kompetensi tetap penting?
Karena menjadi juru bahasa jauh lebih dari sekadar bisa berisyarat — dibutuhkan akurasi, netralitas, penguasaan istilah, dan etika, terutama di konteks medis dan hukum yang berisiko tinggi.
Apa bedanya bisa berbahasa isyarat dengan menjadi juru bahasa isyarat?
Bisa berisyarat adalah syarat awal. Juru bahasa profesional harus mengalihbahasakan dua arah secara langsung tanpa kehilangan makna, bekerja di bawah tekanan, dan memegang kode etik.
Apa itu Pusbisindo dan Gerkatin?
Pusbisindo adalah pusat pelatihan BISINDO bersama komunitas Tuli, sedangkan Gerkatin adalah organisasi yang menaungi gerakan kesejahteraan Tuli Indonesia dan mendorong lahirnya juru bahasa berkualitas.
Bagaimana cara memverifikasi kompetensi juru bahasa isyarat?
Tanyakan latar pelatihan dan pengalaman, minta rekam jejak, periksa penguasaan sistem (BISINDO/SIBI), pastikan komitmen kode etik, dan bekerja lewat penyedia tepercaya.
Apakah semua acara memerlukan juru bahasa berkualifikasi tinggi?
Tingkat kualifikasi menyesuaikan konteks. Rapat internal cukup dengan penguasaan dasar, sedangkan medis, hukum, dan konferensi resmi memerlukan pengalaman dan penguasaan istilah spesifik.
Apakah menyewa lewat penyedia lebih aman?
Ya. Penyedia tepercaya sudah menyeleksi kompetensi juru bahasanya di awal, sehingga Anda tidak perlu memverifikasi setiap kualifikasi sendiri dari nol.
Apakah penguasaan BISINDO dan SIBI keduanya diperlukan?
Tergantung audiens. Juru bahasa profesional umumnya menguasai keduanya dan menyesuaikan dengan preferensi peserta Tuli serta konteks acara.